Ajaran Sufi Para Wali PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 11
TerjelekTerbaik 
Ditulis oleh Siska Widyawati   
Selasa, 01 April 2008 00:00

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

KHAZANAH kearifan sufistik khas Indonesia sebenarnya bertebaran dalam banyak manuskrip kuno. Namun, jarang dikaji serta dipopulerkan kembali. Salah satunya terdapat dalam naskah kuno Mertasinga yang merupakan pesan Syekh Athaullah, guru dari Sunan Gunung Djati, satu dari sembilan Wali Sanga.

“Mengenai langkah yang harus dijalani, janganlah kamu berlebihan, hiduplah dengan bersahaja, jangan sombong dalam berbicara, dan jangan berlebihan terhadap sesama manusia. Itulah langkah sempurna yang sejati. Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur, lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkanlah orang yang salah. Hanya itulah langkah yang sejati”

(Sajarah Wali, Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang Djati, Naskah Mertasinga, Wahjoe: Pustaka, 2005)
Naskah ini diterjemahkan oleh Amman N Wahjoe yang memiliki dokumen ini secara turun-menurun dalam keluarganya. Wahjoe membuat babad berbahasa Jawa-Sunda ini kini dikenal dalam bahasa Indonesia dan menjadi satu bacaan yang banyak mengungkap sejarah tentang para wali di Pulau Jawa.

Sebenarnya ajaran-ajaran macam ini bertebaran di Indonesia. Bentuknya dapat berupa babad, kawuh, tembang kinanti, dan sebagainya. Namun, itu umumnya tersimpan dalam bentuk dokumen-dokumen pribadi turun-temurun, dan karenanya bersifat eksklusif serta tidak terdokumentasi dengan baik.

Banyak keluarga di Indonesia menyim­pan catatan-catatan seperti ini yang mereka warisi dari kakek, nenek atau buyutnya. Namun karena ketidakmengertian catatan ini diperlakukan sebagai jimat yang dikeramatkan tanpa dikuak isinya.

Bagi saya pribadi amat menarik untuk mengetahui secara mendalam ajaran-ajaran para wali itu. Sejak dulu informasi yang saya terima tentang para wali, hanyalah hal-hal yang bersifat sinkretik yang penuh dengan cerita-cerita kegaiban.

Namun semakin saya mencari, yang saya temukan adalah kesederhanaan ajaran mereka yang cukup menyentuh sisi keberagamaan saya. Kalau ditilik dari ajaran-ajarannya, para sunan ini tidak hanya sekedar pendakwah, namun mereka mempunyai khazanah sufistik yang cukup mendalam.

Salah satu tanda dari khazanah sufistik yang dimiliki para wali tersebut adalah wisdom (kebijaksanaan). Salah satu contohnya dapat kita rasakan pada ajaran Sunan Kudus yang sampai saat ini masih diyakini oleh sebagian masyara­kat di Kota Kudus, Jawa Tengah. Yakni tentang larangan menyembelih sapi. Saat itu Sunan Kudus memerintahkan penghormatan terhadap sapi untuk mentoleransi kepercayaan masyarakat Hindu yang hidup di kota itu.

Menurut kisah yang tersebar dalam masyarakat, Sunan ini memulai dakwahnya dengan cara yang sangat unik untuk memancing masyarakat pergi ke masjid mendengarkan dakwahnya. Ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagung­kan sapi, tumbuh simpatinya. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat al-Baqarah yang berarti "sapi betina".

Selain itu, kita dapat juga mempelajari ajaran dari Sunan Bonang yang gemar menciptakan lagu-lagu rakyat sebagai lahan dakwahnya. “Tombo Ati”, salah satu tembangnya yang cukup popu­ler sampai saat ini, terutama saat dinyanyikan kembali oleh Opick dan Emha Ainun Nadjib.

Obat hati ada lima perkara
yang pertama baca Quran dan makna­nya
yang kedua shalat malam dirikanlah­
yang ketiga berkumpulah dengan orang saleh
yang keempat perbanyaklah berpuasa
yang kelima dzikir malam perpanjang­lah
siapa yang bisa melakukan salah satuny­a
semoga Tuhan memberikan penyembuh­nya

Salah satu sunan lain yang cukup unik pendekatan dakwahnya dan cukup akrab dengan budaya lokal adalah Sunan Kalijaga. Wali yang satu ini menggu­nakan pendekatan budaya untuk membujuk masyarakat Hindu dan Buddha pada zamannya. Salah satu pening­galan beliau yang cukup dikenal oleh masyarakat Jawa adalah kisah pewayangan Dewa Ruci. Kisah tentang Bima yang bertemu dengan Dewa Ruci yang berwujud sama dengan dirinya menyimbolkan pertemuan manusia dengan jiwanya sendiri.

Kisah Dewa Ruci merupakan satu simbol khazanah kesufian yang melihat bahwa tiap-tiap manusia harus bertemu dengan jiwanya sendiri untuk mengetahui laku sejati dalam hidupnya. Sayangnya saat ini banyak orang Jawa menggunakan pementasan wayang Dewa Ruci ini untuk ritual “ruwatan” tanpa mengetahui pesan sesungguhnya dari kisah tersebut.

Yang cukup ajaib buat saya juga adalah fakta sejarah bahwa para wali itu sebagian besar adalah orang-orang asing. Menurut buku yang ditulis oleh Sudirman Tebba, “Mengenal Wajah Islam yang Ramah” (Pustaka Irvan, 2007) dan juga “Sejarah Wali dalam Naskah Mertasinga”, para wali kebanyak­an berasal dari tanah Arab dan Campa, Indochina sekarang (Vietnam dan Kamboja).

Syekh Syarif Hidayatullah sendiri serta Sunan Kudus berdarah Arab. Wali-wali yang lain seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Bonang mem­punya­i hubungan kekeluargaan satu sama lain, dan merupakan keturunan dari Campa.

Kenyataan bahwa orang-orang asing khusus datang dan berkumpul ke Pulau Jawa untuk menyebarkan dakwah Islam, adalah hal yang cukup menarik untuk diselami. Mengapa mereka datang ke sini? Dan lebih hebatnya lagi mengapa mereka yang berdarah asing itu dapat membumikan nilai-nilai Islam sesuai dengan nilai lokal, atau lebih tepatnya “berdakwah” dengan “bahasa” kaumnya?

Ini adalah misteri yang membutuh­kan studi yang panjang, namun dengan khazanah sufistiknya yang unik para wali mengajarkan nenek moyang saya untuk menyembah Tuhan dengan keberserah­dirian yang sederhana.

Sayangnya esensi dari ajaran para wali ini terlupakan saat ini. Banyak orang di Indonesia mencoba mencari refleksi keagamaannya ke luar dan bukan pada dirinya sendiri. Gerakan pan-Islamisme yang populer pada 1980-an agaknya banyak membuat perubahan dalam berislamnya orang Indonesia.

Paham-paham yang serba keras, murni berwajah syariah tanpa percikan kebijakan membuat Islam dipahami denga­n perspektif yang amat berbeda pada generasi–generasi muda Islam Indonesia yang ada saat ini.

Gerakan–gerakan Islam yang banyak merupakan turunan dari organisasi Islam dari Mesir atau Saudi Arabia, membuat banyak orang terasing dari sejarah keberagamaannya sendiri. Aliran garis keras ini pun direaksi dengan gerak­an keislaman yang liberal yang mencoba memasukkan Islam mempu­nyai logika berpikirnya sendiri yang transenden, dalam frame ilmiah Barat yang sifatnya materialistik.

Saya tidak menemukan wajah Islam yang diyakini oleh nurani saya pada dua sisi ekstrim tersebut. Namun saya menemukan ketersambungan akar keyakinan saya tentang bagaimana seharusnya “beragama Islam” dalam ajaran para wali.

Sekarang, pada saat Islam diidentik­an dengan terorisme dan kekerasan, Indonesia sering ditoleh oleh Barat sebaga­i antitesa bahwa Islam adalah wujud dari kedamaian dan toleransi. Menurut saya sudah saatnya menggali dan mencoba menemukan lagi inti dari warisan ajaran-ajaran para wali, sehingga kita bisa menemukan keunikan sejarah keberagamaan kita sendiri dan menyebarkan pada dunia, wajah Islam yang sebenarnya sebagai rahmat sekalian alam.*

Comments (1)Add Comment
Salam Insan Kamil
written by alex sanjaya, January 09, 2013
Sangat respect dengan tulisan Anda,,, Saya yg lg mencari jadi diri yang tiada daya dan upaya,...
report abuse
vote down
vote up
Votes: +0

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy