Pelanggaran Hukum Kaum Islam Garis Keras dan Potensi Korbannya PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 10
TerjelekTerbaik 
Ditulis oleh Irwan Amrizal   
Senin, 28 Maret 2011 13:47

Saat diskusi (16/3) di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Asfinawati mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta diskusi. Salah satu pertanyaan menarik yang diutarakan mantan direktur LBH Jakarta 2006-2009 itu adalah, “Apakah ekspresi keberagamaan seseorang bisa dibatasi?”

Untuk menjawab pertanyaan di atas, Asfin mengacu pada teks hukum internasional hak asasi manusia. Pada pasal 18 Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik ayat 3 berbunyi, “Kebebasan menjalankan agama atau kepercayaan seseorang hanya bisa dibatasi berdasarkan hukum, dan yang diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan, atau moral masyarakat, atau hak-hak dan kebebasan mendasar orang lain.”

Implementasi teks hukum di atas dapat diuji pada kelompok keagamaan tertentu yang dianggap sesat dan dianggap menghina agama tertentu. Misalnya, apakah kelompok itu menghalangi kebebasan orang lain yang berbeda keyakinan dengannya? Apakah mereka menggangu kelompok lain dengan menyuruh anggotanya melakukan pemboman? Apakah mereka melakukan pawai tanpa menghiraukan tanda-tanda lalu lintas? Apakah mereka melakukan bunuh diri massal atau meracuni tempat minum publik? Apakah mereka mengganggu moral publik seperti mengajarkan incest kepada anggotanya? Dan apakah mereka menyerang kelompok lain sehingga menggangu ketertiban umum?

Bila kelompok tersebut tidak melanggar satu atau beberapa ketentuan yang termaktub dalam teks hukum internasional di atas, maka kelompok tersebut seharusnya bisa bebas menjalankan agama dan kepercayaanya. Dan kelompok masyarakat manapun tidak berhak menghalanginya, termasuk negara.

Sayangnya, menurut Asfin, spirit teks hukum internasional ini tidak dipahami oleh aparatur negara kita, khususnya Mabes Polri dan beberapa pemimpin daerah dalam melihat kasus Ahmadiyah. “Aktivitas Ahmadiyah mesti dibatasi karena Ahmadiyah mengganggu ketertiban publik. Mengapa mengganggu, karena ajaran Ahmadiyah berbeda dengan ajaran Islam pada umumnya. Karena berbeda, lalu Ahmadiyah dianggap menghina Islam. Karena menghina, lalu masyarakat Muslim marah dan menyerang Ahmadiyah. Karena itulah Ahmadiyah mengganggu ketertiban umum.” Begitulah mindset para penegak hukum kita yang ditangkap Asfin.

Logika kepolisian di atas, kira-kira sama seperti ini: ada orang kaya yang mobilnya dicuri. Ia kemudian melaporkan kasus pencurian yang menimpa dirinya kepada pihak kepolisian. Bukannya dibantu, polisi malah menangkapnya. Alasannya, dia tidak peka terhadap kemiskinan yang terjadi di sekeliling rumahnya. Dan sikap inilah yang kemudian menyulut tetangganya atau orang lain mencuri mobilnya tersebut.

Dengan logika seperti itu, Ahmadiyah tidak pernah menjadi korban dari kejahatan dan tindakan brutal yang dilakukan kelompok lain kepada mereka. Yang terjadi, mereka malah dituduh menjadi pelaku tindakan tersebut. Lebih lanjut, Asfin sangat menyayangkan pemberitaan di media yang mengatakan bahwa Ahmadiyah terlibat bentrok dengan kelompok lain. Padahal nyatanya, jelas-jelas mereka diserang.

Menurut Asfin, pola-pola kekerasan di Indonesia selalu sama, dulu dan sekarang. Dulu seseorang atau suatu kelompok akan dihabisi bila dituduh terlibat PKI, GAM, atau OPM. Kelompok yang dianggap sebagai musuh bersama karena berbahaya bagi keutuhan NKRI atau mainstream. Sekarang tuduhan itu dialamatkan kepada pihak-pihak yang dianggap sesat, yang berbeda dengan ‘khalayak umum’. Ahmadiyah, salah satunya.

Sydney Jones, pembicara lain dalam diskusi tersebut, menyampaikan beberapa pernyataan yang menarik. Bagi Jones, Ahmadiyah atau kelompok Kristen baru dua kelompok yang menjadi target serangan kaum Islam garis keras. Selanjutnya adalah Hindu, Syi’ah, Baha’i, eks PKI dan keturunannya, gay dan transgendered, keturunan China, serta kalangan Muslim lainnya yang dianggap kafir, murtad, dan hizbiyah. Artinya, setiap kita bisa berpotensi menjadi musuh kaum Islam garis keras.

Belakangan mereka mengancam pemerintah dengan dengungan revolusi bila pemerintah tidak juga membubarkan Ahmadiyah. Lebih jauh, mereka juga sudah merancang formatur yang mirip dengan susunan pemerintahan yang mereka sebut Dewan Revolusi Islam (DRI) untuk menggantikan pemerintahan yang berkuasa saat ini dengan tuduhan berkomplot dengan kekuatan zionis internasional.

Sydney Jones tidak habis pikir bagaimana mungkin kelompok yang sering terlibat dalam aksi kekerasan bisa bertemu bahkan diundang oleh menteri seperti yang dilakukan Gamawan Fauzi dan Suryadharma Ali atau oleh Pemerintah Lokal. Di AS, misalnya, cerita seperti ini tentu tidak akan kita temukan. Jangankan Pemerintah Pusat, Pemerintah Lokal di sana pun tidak akan mau menemui apalagi mengundang orang seperti Terry Jones, sang penggagas hari membakar Al-Quran.

Sydney Jones menambahkan ada beberapa faktor yang membuat kelompok Islam garis keras ini bisa menguasai wacana publik saat ini. Agenda yang jelas, membangun jaringan di Pemerintah Pusat dan Lokal, serta bermain di Pilkada. Kalangan Islam progresif atau kelompok pengusung toleransi dan pluralisme dua hal yang terakhir selalu dijauhi. Padahal dua poin tersebut bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan gagasan-gagasan yang ramah terhadap yang lain melalui jalur formal-struktural. Dan faktor yang terpenting lainnya adalah vakumnya ideologi yang menentang ideologi penuh kekerasan ini.

Sydney Jones sepakat dengan Asfin bahwa hukum bukanlah satu-satunya cara untuk menghentikan gerakan Islam garis keras di Indonesia, walaupun penegakan hukum harus tetap dilakukan. Sebab, biasanya kalangan Islam garis keras selalu berdalih dengan hukum Tuhan dan mengabaikan hukum internasional yang dibuat manusia, walaupun dalam keadaan terjepit, dan ini yang paradoks, mereka juga menggunakan hukum internasional buatan manusia. Pendidikan berbasis keberagaman, menurut Asfin dan Sydney Jones, bisa menjadi alternatif lain untuk meminimalisir bibit-bibit gerakan Islam garis keras di Indonesia. *****

Sumber Foto: Dokumentasi Madina

Comments (1)Add Comment
Setuju
written by Sufi, March 29, 2011
Sy sangat sepakat, wacana ini terus di dengungkan. Wacana keberagaman akan mampu mengeluarkan bangsa ini dari kehancuran yg di timbulkan oleh kesulitan mencerna ajaran Islam yg rahmah dan penuh berkah bagi seluruh makhluk di bumi.
report abuse
vote down
vote up
Votes: +3

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
LAST_UPDATED2